Tradisi yang Menembus Zaman
Dalam sambutannya, Gubernur menekankan bahwa festival ini bukan sekadar ajang bermain, melainkan upaya konkret dalam melestarikan warisan budaya tak benda. Menurutnya, layang-layang adalah filosofi tentang keseimbangan dan ketangkasan.
"Melihat layang-layang terbang tinggi adalah simbol harapan kita untuk Sumatera Utara yang terus maju. Ini adalah wadah kreativitas yang harus kita jaga, di mana teknologi dan tradisi bisa terbang beriringan," ujar Gubernur sebelum secara simbolis menerbangkan layang-layang utama bertajuk Sumut Mantap.
Sirkuit Pancing Jadi Pusat Perhatian
Pemilihan Lapangan Sirkuit Pancing sebagai lokasi acara dinilai sangat tepat. Dengan angin yang cukup stabil dan area yang luas, lokasi ini mampu menampung ratusan peserta serta ribuan pengunjung yang memadati tribun sejak pagi hari.
Festival tahun ini menampilkan berbagai kategori perlombaan, antara lain:
Layangan Tradisional: Menampilkan desain klasik dari bambu dan kertas.
Layangan Dua Dimensi : Bentuk-bentuk unik mulai dari naga hingga ikon budaya Sumut
Mendorong Ekonomi Kreatif
Selain aspek budaya, Gubernur juga menyoroti dampak ekonomi dari acara ini. Di sekitar area sirkuit, puluhan stan UMKM lokal menjajakan produk kuliner dan kerajinan tangan, termasuk bengkel pembuatan layang-layang bagi anak-anak.
"Kita ingin setiap event seperti ini memberikan tetesan ekonomi bagi warga sekitar. Penginapan penuh, kuliner laku, dan pengrajin kita mendapat panggung," tambahnya.
Apresiasi dari Panitia
Ketua Panitia Festival menyampaikan rasa terima kasihnya atas kehadiran dan dukungan penuh Pemerintah Provinsi Sumatera Utara. Dukungan ini dianggap sebagai suntikan semangat agar festival ini bisa naik kelas ke level internasional di tahun-tahun mendatang.
Acara pembukaan diakhiri dengan atraksi "Barongsai Naga" yang berhasil memukau penonton, menandai dimulainya kompetisi yang akan berlangsung selama dua hari kedepan.
Penulis: Tim Bhayangkara News
Editor : Sutan Malik

0 Komentar